Home » Featured

The Curious Case of Benjamin Button

24 February 2009 Dibaca 354 kali One Comment

Istri saya baru saja selesai menonton Burn After Reading yang mengasyikan itu. Dia bilang, film itu jelek, nggak ngerti, dan membuatnya tertidur. Brad Pitt juga terlihat nggak banget di sana kataya. Lalu saya menawarkan, bagaimana kalau kita melihat The Curious Case of Benjamin Button. Dia setuju. Dan here we go!

Film ini berada pada genre yang komplit. Drama, comedy, fantasi dan misteri. Diampu oleh David Fincher yang bersama Brad sukses menampilkan film favorit saya, Fight Club dan Se7en. Ada pula Panic Room dan Zodiac. Sisanya, video Band Rock Aerosmisth dan Madonna.

Curious Case..bercerita tentang kisah hidup Benjamin Button (Brad Pitt) yang mengalami fase hidup yang aneh. Ia lahir dalam keadaan tua. Dan seketika bertambah umur, ia makin muda. Benjamin putra dari Thomas Button (Jason Fleyming) pemilik pabrik kancing Button Button’s. Ibunya meninggal saat melahirkan Ben, Thomas yang kaget melihat keanehan si jabang bayi lantas membuang Ben di depan sebuah panti jompo.

Ia dirawat Queeniie, pengurus panti yang kulit hitam. Ben, menghabiskan hari-harinya di sana. Bersama para jompo yang menganggap ia seusia mereka. Padahal umurnya berbeda. Alurnya merambat pelan tapi mengasyikan. Ben bertutur kisah hidupnya. Fase per fase yang menakjubkan. Sekilas mirip dengan penceritaan Forrest Gump.

Ia berkenalan dengan banyak orang dalam hidupnya. Seorang kapten kapal, perenang samudera, pianis jompo, dan lelaki yang selalu bercerita: ia kena petir 7 kali dalam hidupnya. Terpenting lagi, pertemuannya dengan Daisy (dewasa diperankan Cate Blanchett). Daisy adalah perempuan abadi dalam hidupnya. Waktu dan usia mempertemukan mereka dalam kondisi normal. Ben demikian tampan, dan Daisy tengah dipuncak kecantikan.
Dua orang sahabat yang saling mencintai ini akhirnya menikah. Tapi, film ini terus menceritakan fase Ben. Saat ia beranjak tua, penampilannya makin muda. Jompo, tua, dewasa, muda, anak-anak, hingga bayi. Perubahan-perubahan wajah, dan penampilan Ben memang ditunjang oleh visual efek dan make up yang sangat ciamik. Jika pernah menonton Big Fish garapan Tim Burton, film ini sama menariknya.

Eric Roth (yang juga mengampu naskah Forrest GumP) sukses menghadirkan naskah yang mengalir dan tidak menjemukan. Brad berperan demikian baik. Cate sepertinya mati-matian untuk sukses berakting balet. Seorang teman, menuliskan dalam resensinya…bahwa film ini mirip Forrest, tapi minus humor. Hey, this movie is a having a lot of humours.

Ada dialog-dialog yang berat, ringan dan berisi. Film ini hendak menunjukan, bahwa, hidup penuh kejutan, jadi, “kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi,” kata Ben. Salah satu piala Oscar harusnya bisa diraih film ini. Film ini sangat-sangat-sangat layak ditonton. Buktinya, istri saya menonton film ini sampai habis. “Bagus,” katanya sebelum berangkat tidur. Ya iyalah…xixixixi.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars

One Comment »

  • ab said:

    bagi yang ingin lihat Brad Pitt tua ya wajib nonton film ini…:)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.